Jumat, 04 Januari 2013

SWEET SEVENTEEN’S LOVE


NINA
Sampai disini, langkahku harus kembali terhenti karena orang itu.Aku tak tahu bagaimana aku menggambarkan perasaanku ketika melihat mereka berdua berdekatan.Perasaan ini begitu sakit dan tidak dapat menerimanya.Perasaanku jadi merasa tidak enak secara tiba-tiba dan tanpa alasan. Mungkin karena acara ini tidak akan berjalan seperti yang aku inginkan. Aku masuk ke kamar untuk sejenak menenangkan diri.Aku menatap cermin yang hanya diam tak bergerak dihadapanku, dia memandangku bimbang. Entah apa yang aku pikirkan saat ini, semuanya tiba-tiba jadi semakin tidak jelas.Aku coba menarik napas panjang untuk menenangkan pikiran.Bagaimanapun juga aku harus berada diantara mereka semua sampai semuanya selesai.
“Hai, cilik!Baru kelihatan, dari tadi aku cari-cari enggak ada.Kemana aja?”Suara itu mengagetkanku saat aku menampakkan diri didepan pintu kamar.Aku hanya tersenyum yang dipaksakan dan segera menjawab pertanyaannya.
“Tadi masih ambil sesuatu di kamar.”
“Hm,,, Happy birth day ya, ini kadonya. Spesial lo ya.Bukanya nanti aja.”Dia memelukku erat seperti biasa.Pelukan yang bagiku sangat berarti banyak namun tak ada apa-apa baginya, karena baginya aku hanya anak kecil yang baru lahir kemarin sore.
“Makasih, mas.”Sekali lagi aku hanya menjawabnya datar.
Dan untuk kali ini aku tidak ingin terlihat tidak menyenangkan di mata mas Kareel. Aku tidak akan memperlihatkan bahwa aku sedang kebingungan tentang sesuatu yang tidak jelas adanya. Namun penyamaranku sepertinya tidak berguna, dia mengenali wajahku yang sedang tidak beres.
“Nin, kamu kenapa?Kamu gak enak badan, ya?”Dia mengangkat wajahku yang dari tadi mati-matian aku sembunyikan.
“Tuh, kan! Kamu lagi gak enak badan nih pasti.”Dia meraba-raba keningku.
“Apaan sih, mas.Aku gak pa-pa kok.”Aku langsung menghindar dan segera menemui teman-temanku yang dari tadi sudah datang.
Acara ulang tahun yang sederhana tapi meriah ini berlangsung dengan lancar dan leganya semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Aku segera menutup pintu kamar rapat-rapat setelah bang Norman membantu membawakan semua kado ke kamarku. Acara sudah selesai dan aku merasa tidak ada yang spesial.Semuanya biasa-biasa saja.Tidak ada yang bisa aku kenang dalam tiup lilin sweet seventeen-ku. Tidak seperti anak-anak yang lain yang tiba-tiba ditembak oleh cowok yang disukainya, atau tiba-tiba dapat kado liburan ke paris, atau dapat liburan gratis bersama seleb yang disukainya, aku hanya diam tak bergairah. Meskipun aku tidak mengaharapakan aku ditembak olehseorang cowok atau dapat tiket liburan tapi setidaknya aku dapat menikmati pesta ultahku baru saja.Namun semuanya terasa begitu datar, bahkan hambar.Sedikit demi sedikit aku menenangkan pikiran dengan membuka satu persatu kado hadiah dari semua orang.Cukup membantu.
♥♥♥
Aku hanya diam didepan pagar sekolah menunggu jemputan datang.Hari ini aku dilarang pulang naik angkutan umum karena ternyata aku semalam terkena demam tinggi.Dan hari ini terpaksa masuk karena sedang UTS.Setelah menunggu sekian lama menunggu akhirnya ada orang yang memanggilku sambil tergopoh-gopoh menghampiriku.
“Hai nona cilik, sorry banget ya mas lama jemputnya.Habis si Norman dadakan banget ngomongnya kalo kamu harus dijemput.”
“Bang Norman, mana?”
“Katanya mobilnya ngadat.Jadi aku yang jemput.Kita pulang sekarang, yuk!”Aku hanya diam dan menuruti kata-katanya tanpa banyak bertanya lagi.Aku lagi pusing dan ingin segera sampai rumah, tidur, dan melupakan hal-hal yang tidak penting.
Aku sudah tahu, aku akan berada di jok belakang, melihat mereka berdua ngobrol, aku sendiri mendengarkan dengan kesal, dan berbagai perasaan lain yang tidak enak akan terjadi didalam mobil ini.
Mas Kareel membukakan pintu mobil belakang sekalian menutupkannya kembali setelah aku masuk.Mobil itu segera melaju setelah semuanya beres.Disamping kemudi telah ada kak Tiara yang akhir-akhir ini memang sedang dekat dengan Mas Kareel. Dia menyapaku dengan ramah sebelum akhirnya membuka obrolan dengan sang supir sendiri. Aku hanya menjadi pendengar.Menjadi pendengar yang tidak berguna sangat membosankan.Duduk di jok belakang dan menjadi orang yang tidak diajak nimbrung adalah kegiatan yang paling bodoh yang pernah ada.Aku harus mendengar semuanya tanpa tahu maksudnya.Mereka berdua sangat asyik dengan mereka sendiri padahal diantara mereka juga ada orang yang mungkin butuh untuk dihargai. Sebeelllllll…. Hhh, aku pengen pingsan.
♥♥♥
“Abang, pokoknya aku gak mau kejadian tadi siang terulang lagi.”
Bang Norman tiba-tiba mematung didepan pintu sebelum meninggalkan kamarku. Kebetulan dia baru saja mendapat tugas mengantar makananku ke kamar.
“Kejadian apaan?Emang apa yang telah terjadi?”Dia memasang tampang yang sok diseriuskan.
“Kejadiannya, kalo sampe, besok, atau suatu hari nanti aku memang harus dijemput, terus ternyata abang enggak bisa jemput, jangan sampe yang menjadi penggantinya lagi adalah mas Kareel.”
Bang Norman manggut-manggut.
“Terus siapa yang bakal jadi penggantinya?”
“Pokoknya selain mas Kareel.Ojek kek, taksi kek, becak kek, atau apa lah.”
“Alasannya?”
“Aku bukan anak kecil lagi yang bisa mereka cuekin ketika mereka membicarakan sesuatu.Dan aku juga selamanya gak mau berada diantara mereka berdua.”
“Emang mereka ngomongin apa?” Bang Norman mulai menggoda.
“Abang, aku cuma bilangin sekali lagi.Jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi.Abang ngerti enggak sih?”
“Haduuh, nona lagi marah, lagi cemburu, dan lagi ngerasain campur aduk hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”Dia mengacak-acak rambutku.
“Aaah, semuanya gak ada yang ngerti.Semuanya gak punya perasaan.” Aku mendorong tubuh bang Norman keluar kamar sambil teriak-teriak gak jelas gara-gara kesal. Setelah itu aku membanting pintu sekuatnya.
♥♥♥
Aku menatap boneka yang dihadiahkan mas Kareel padaku kemarin pada acara ulangtahunku. Terlihat sangat manis namun aku memandangnya sebagai sesuatu yang sia-sia. Boneka itu berarti bagiku tanpa alasan. Aku ingin menjadikannya sesuatu yang istimewa, namun tidak tahu  istimewa dalam hal apa. Aku memandanginya sekali lagi.Ternyata ada simbol jempol yang ukuran jarinya mirip dengan ukuran jempol tanganku.Kudekatkan tanganku untuk mencocokkannya.Aku menghela napas ketika menemukan jawabannya.Ternyata benar, itu memang ukuran jempolku.Namun dengan hal itu aku semakin membenci boneka ini.
Dulu, sebelum aku menjadi orang ‘gila’ seperti sekarang, aku sangat dekat dengan mas Kareel dan sering menyemangatinya ketika dia sedang sedih.Aku sering bilang padanya bahwa dia adalah orang yang paling TOP di dunia, dan sebagai simbolnya aku selalu mengacungkan jempolku untuknya.
Sekarang aku menjadi benci tanpa alasan padanya ketika ada kak Tiara yang tiba-tiba selalu menjadi perioritas utamanya dan melupakan aku.Mungkin aku cemburu, mungkin aku kecewa, bukan, mungkin aku kerasukan setan yang dulunya mati karena dikhianati oleh pacarnya. Ah, semuanya gak masuk akal. Aku membanting boneka cream besar itu dari hadapanku.
‘Kroeek’
“Nina, sore ini kita pergi ke acaranya Tiara ya. Kamu diundang.Siap-siap ya!”
Kepala bang Norman melongo di pintu.
“Acara apaan?”
Bang Norman urung menutup pintu dan orang itu akhirnya masuk kedalam.
“Peringatan kematian adiknya.”
“Terus kenapa ngundang aku? Kapan aku diundangnya?Aku gak nerima undangan.Lagian, aku gak kenal-kenal banget sama dia.”Tanyaku panjang lebar yang menandakan bahwa aku sangat tidak bersedia untuk hadir.
“Nin, meskipun Tiara tidak begitu kenal sama kamu, dia mengaku sangat menyukai kamu. Ketika melihat kamu dia bilang selalu ingat sama mendiang adiknya. Dia memang terlihat tidak begitu akrab dengan kamu itupun dia bilang karena setiap kali kalian bertemu, kamu selalu cemberut.Makanya dia gak berani deketin kamu.”
“Udah jelas aku gak suka dia, udah jelas-jelas aku gak pengen kedet-deket dia, ngapain masih bilang kalo dia suka aku?”
“Nina, katanya kamu udah besar, tapi kenapa kelakuan kamu masih seperti itu?Kalau kamu ngaku kamu udah gede, ya bersikaplah seperti orang gede.”
“Tahu lah, bang. Pokoknya aku gak mau dateng.”Aku membelakangi abangku.
“Nina-nina. Abang kira kamu udah gede.”Abang menggeleng-geleng kepala.“Untung Kareel sangat sabar nerima kamu.Untung dia orang yang ngerti kamu. Jadi, dia bisa nasehatin aku tiap kali aku kesel sama kamu. Sekarang terserah kamu, mau tetep kaya’ gitu apa enggak. Yang jelas Kareel juga manusia, dia juga bisa marah ketika kamu bersikap seperti itu.”
Dia membuka gagang pintu bersiap untuk keluar.
“Dan satu lagi, aku tahu kamu suka sama Kareel. Tapi jangan berharap terlalu banyak kalo sikapmu masih seperti itu. Kareel pasti akan memilih orang yang tepat dalam hidupnya.Kalau aku jadi Kareel, aku pasti akan lebih memilih Tiara daripada kamu.”
Suara itu membekukanku dalam lamunan.Kata-kata abang, meskipun terasa menyakitkan, kedengarannya sangat bisa diterima dan benar.Baru kali ini aku merasa bersalah, baru kali ini aku merasa putus asa.Aku sudah menemukan jawabannya.Aku sudah tahu kenapa akhir-akhir ini mas Kareel menghilang dariku.Jadi semua ini bukan salah kak Tiara atau siapapun juga.Ternyata satu-satunya orang yang bersalah adalah aku.Sekarang aku juga sadar kalau mas Kareel pastinya lebih nyaman ketika bersama kak Tiara.Kak Tiara yang cantik, pintar, baik dan juga dewasa. Siapa yang akan merasa bosan berlama-lama diam dengannya? Tentu saja enggak ada.Pantas saja selama ini aku merasa kesal tanpa alasan, ternyata aku iri padanya, kak Tiara.
♥♥♥
KAREEL
Sudah dua jam aku disini tapi menunggu kedatangannya bagai satu tahun. Kenapa sudah hampir sore begini dia belum pulang juga?Aku resah ingin segera melihat wajahnya yang aku rindukan selama ini. Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengannya karena aku harus pergi menyelesaikan pekerjaan diluar kota. Sebenarnya aku sangat benci ketika setiap kali aku harus pergi ke luar kota, tapi apalah daya itu merupakan tugas kantor.
“Ma, Nina mana ya? Kok belum pulang juga?”Suara Norman sedikit mengobatiku karena tanpa sengaja dia telah membantuku menjawab pertanyaan yang dari tadi menghantui.
Sambil mendekat membawa potongan buah yang sudah dikupas, tante Sarah segera menjawab. “Katanya masih mau ngumpul sama temen-temennya. Dia udah pamit sama mama kalau mau pulang telat.”
“Oh!”
Norman manggut-manggut paham.Setelah mengucapkan kata tanda mengerti itu dia melanjutkan game-nya.Selanjutnya aku hanya diam berusaha untuk sabar menunggu si cilik Nina datang.
Satu jam setelah itu yang ditunggupun datang dengan wajah kecapekan. Aku berharap dia tidak langsung tidur setelah masuk kamar.Dan aku berusaha menahannya agar nanti menemaniku di luar.
“Aduh cilik. Lama banget sih datengnya. Mas nungguin kamu lo dari tadi.”Matanya yang besar ditubuh mungilnya selalu menghidupkanku.Dia menatapku jengkel.Aku semakin ingin menggodanya.
“Kenapa? Beneran lo, mas kangen ma kamu.”
“Mas, udah deh. Nina kan gak punya hutang sama mas Kareel. Jadi jangan memberondong disaat orang lagi capek gini dong.” Dia cemberut.
“Mmm, yaudah. Berarti sekarang kamu harus ganti baju dulu, nanti mas temenin kamu nenangin pikiran, oke!”Aku mendorong tubuh mungil itu ke kamarnya, membukakan pintu kamar untuknya lalu menutupnya lagi setelah aku berhasil memasukkan makhluk cilik itu ke dalam.
Aku segera menyiapkan makanan yang memang sudah ada diatas meja.
Menunggunya beberapa menit lagi setelah itu Nina keluar dengan baju santainya.Dengan malas dia menghampiri meja makan dan segera menghadapi piring yang sudah berisi nasi yang aku siapkan baru saja.
“Makan yang banyak ya biar cepat gede.”Dia memakannya tanpa bersuara sedikitpun.Namun sekarang dia malah kelihatan sedih. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas memang akhir-akhir ini aku sering melihatanya seperti itu, dan aku sangat tidak suka melihatnya murung begitu.
Sudah lama aku ingin bertanya kenapa dia tidak pernah seceria lagi seperti dulu.Tapi Norman bilang aku tidak perlu menanyakannya, aku turuti.
Tanpa suara sedikitpun dia terus makan sampai nasi dipiringnya habis.Aku menawarkan agar dia nambah lagi, tapi dia tolak.
“Kalo udah selesai, ikut mas minum teh yuk!”
Dia segera beranjak tanpa menjawab sedikitpun.Dan dia langsung menuju balkon sementara aku masih mengambil dua cangkir teh hangat.
“Reel, mau kemana? Temenin main dong.” Suara Norman tiba-tiba muncul.
“Manja! Enggak ah, aku lagi mau sama si cilik. Kangen!” Norman sedikit melirik kearah Nina yang sudah duduk diam. Entah apa arti lirikannya itu. Buru-buru aku membawa tehnya kehadapan Nina.
“Nih, diminum. Enak lo.”Dia menyeruputnya sedikit dan meletakkannya lagi.
“Jam berapa sampe, mas?”
“Tadi siang jam setengah 12an, langsung kesini, deh.”Aku nyengir.
“Owh…”
“Nih, ta-da……” Aku memberikan boneka super besar padanya.
“Oleh-oleh ya?”
Aku mengangguk.
“Tengkyu ya mas.” Dia kelihatan senang dan memeluk boneka itu sesaat.
Dan sesaat setelah itu keadaan menjadi tidak berjalan dengan lancar.Nina diam. Akupun juga.Aku juga tidak tahu kenapa keadaan menjadi beku begini.Dan mau tidak mau, aku harus membuka obrolan terlebih dahulu.
“Nina, kamu marah sama mas ya?” Dia mengangkat wajahnya yang dari tadi sengaja disembunyikan.
“Enggak, marah kenapa mas?”
“Kamu ada masalah?”
“Enggak juga.”
“Mas lihat kamu akhir-akhir ini murung terus. Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama mas kalo kamu mau.”
“Hm, enggak ada apa-apa mas.”Dia tersenyum garing.
Keadaan kembali menjadi hening seketika.Entah kenapa kali ini sepertinya ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan serius.
“Nina, mas boleh bilang sesuatu gak?”
“Apa mas? Boleh lah.”
“Mas enggak suka kamu murung terus kaya gitu. Apalagi mas enggak tahu apa penyebabnya.”
Nina hanya diam dan kembali tertunduk.Entah berapa lama hal itu berlangsung.Aku perhatikan sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
NINA
Mas, aku sangat suka ketika mas menyebut namaku langsung, Nina. Aku sangat suka karena dengan begitu aku merasa bahwa aku telah menjadi gadis yang dewasa, aku merasa dihargai.Bukan dengan sebutan Cilik lagi.
KAREEL
“Cilik, kenapa diam aja? Ngomong dong!”
NINA
Jangan panggil aku Cilik lagi, tolong!Aduh, kenapa hatiku terasa sakit seperti ini? Sakit kenapa sih?emang apanya yang salah?
KAREEL
“Nin, kamu nangis?”
NINA
Aduh, kenapa nangis?Kenapa mataku panas?Aduh, jangan dong.Aku malu.
KAREEL
Aku segera merengkuh tubuhnya kedalam pelukanku.Aku tidak suka melihatnya seperti itu.Walaupun aku tidak tahu dia kenapa. Aku sangat ingin menjadi seseorang yang dapat menghapus air matanya. Dia makin sesenggukan dipelukanku tanpa suara. Aku tak akan melepasnya sebelum dia mengatakan apa yang terjadi. Aku bersumpah akan menyelesaikan masalahnya, apapun itu, agar si cilik ini tidak menangis lagi.
“Lepasin, mas!” Aku tidak mendengarkannya, aku tidak akan lepaskan dia sebelum dia benar-benar lega.
“Mas, lepas!” Katanya setengah berteriak.Berusaha keluar dari belenggu kedua tanganku.Aku yang juga sangat kaget serta merta langsung melepasnya.Aku tak dapat berkata-kata.Aku tertegun.
“Mas, Nina cuma mau bilang, mulai sekarang mas enggak perlu terlalu baik lagi sama Nina. Karena dengan begitu Nina akan semakin ngerasa sakit.”Aku masih tidak mengerti.Namun Nina langsung pergi dan buru-buru masuk kamar. Dengan wajah penuh tanda tanya aku menghampiri Norman yang masih saja sibuk dengan game-nya.
“Nangis? Emang kalian dari tadi ngomongin apa?” Katanya enteng sambil masih sibuk dengan stick dikedua tangannya.Namun tiba-tiba dia berhenti sejenak dan berkata serius.
“Cepet urus anak itu.Dia jatuh cinta ma kamu tapi dia juga cemburu dengan keberadaan Tiara.Aku pernah bilang kalau kamu pasti milih Tiara daripada dia karena dia yang masih childish banget, egois dan tidak pernah merasa bersalah.Kalau kamu memang cuma anggap dia seorang adik yang butuh dimanjakan, kamu segera jelasin deh sama dia sebelum dia salah paham lebih lama. Lagian juga, u..m..u..r..k..a..l..i..a..n..y..a..n..g..te..r” Tanpa menunggu Norman selesai menjelaskan aku langsung pergi ke kamarnya dan menggedor-gedor pintu yang dikuncinya dari dalam. Tante Sarah dan Nenek yang mendengar keributan itu hanya melongo diujung koridor tanpa berani melakukan apapun.Setelah aku ancam mau mendobrak pintu akhirnya pintu itu terbuka juga.
Matanya sembab dan hampir bengkak gara-gara menangis yang keterlaluan.
“Mas hanya akan selalu ada didekat kamu kalau kamu bersedia, dan akan menjauh dari kamu mulai sekarang kalau kamu gak suka mas ada disini.” Dia mengangkat wajahnya sebentar dan langsung menghambur kearahku.
“Dasar anak kecil!”Aku mengacak-acak rambutnya yang panjang sepinggang.
“Mas bukan orang jahat kok. Jadi mas enggak akan tega mempermainkan hati seseorang.Kalau masalah Tiara, dia memang orang baik, tapi karena dia orang yang sangat mengerti perasaan orang lain, dia sampai ngerasa bersalah udah kenal ma aku.
Mas sangat senang semua ini segera terjawab, karena mas juga ingin selalu berada didekat kamu, Cilik.


Penulis : Sahabatku "Sri Wahyuni"
Semoga bisa menghibur kalian :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar