Jumat, 04 Januari 2013

Claudya Delvin


Aku bertanya pada diriku sendiri kapankah pekerjaanku ini akan selesai? Ini sudah malam dan aku harus segera pulang.Ini tidak wajar dan aku tidak tenang.Keringat dingin mulai keluar dan kekahwatiran semakin mendera.
“Ampun nyonya, bukankah seharusnya saya pulang dan mengakhiri pekerjaan disaat matahari terbenam?Sedangkan ini sudah malam.Saya harus merawat suami saya yang sedang sakit.”
Sang ratu tersenyum lembut seraya berkata, “Tidak usah terburu-buru.Tidak akan terjadi sesuatu pada suamimu. Aku masih ada perlu, jadi bersabarlah sedikit.”Aku tidak bisa membantah, namun hatiku tetap melawannya karena aku meninggalkan suamiku, belahan jiwaku, dalam keadaan tidak berdaya sendirian.Tidak, aku tidak dapat meninggalkannya, aku harus pulang.
“Nyonya, kalau boleh hamba meminta.Tolong perkenankan hamba pulang dan jika memang ada hal yang ingin disampaikan, saya akan kembali besok pagi-pagi.”Aku memohon dengan sepenuh hati dan dengan segala kerendahanku.Aku menunduk hikmad karena sangat menghormatinya.
“Claudya, aku sangat mengerti kekhawatiranmu.Tapi tolonglah aku untuk sekali ini saja.Aku tidak akan membuatmu merasa letih, hanya tinggal disini lebih lama lagi.”Aku menundukkan kepala sebentar dan segera berlalu dari hadapannya.Aku menyetujui permitaannya, tak ada alasan lagi untuk menolak. Kemudian membantu pelayan yanglain menyelesaikan pekerjaan.
☺☺☺
Aku adalah seorang pelayan di istana, atau bisa dibilang orang kepercayaan.Aku bekerja mulai dari subuh hingga matahari terbenam. Awalnya aku tinggal di istana bersama pelayan yang lain, namun setelah aku berkeluarga, aku hidup bersama suamiku.Hidup tak selamanya seperti yang kita inginkan, hidup selalu menuntut perjuangan dan hidup membutuhkan keikhlasan.
Suamiku, Clark Delvin telah lumayan lama sakit.Dia bilang sakit ringan, dan dia juga pernah bilang sakit influenza.Namun entah apapun itu alasannya aku sangat pedih ketika setiap kali mendengar suara batuknya yang begitu mengancam. Aku merawatnya dengan sepenuh hati karena cinta, meskipun dia selalu melarang aku mendekatinya karena penyakitnya akan menular. Aku tak memikirkan apapun tentang penyakitnya kecuali kesembuhannya, jika mungkin penyakitnya itu akan merenggutku, aku tak akan pernah mundur untuk berhenti merawatnya.
“Mrs. Delvin.Nyonya memanggil anda.”Sebuah suara mengagetkanku.
Aku segera bergegas menemui Ratu Margareth, berharap bahwa aku telah diijinkan pulang.Dengan penuh hormat aku menghadap.Di beberapa sisi kursi ada orang yang sangat asing bagiku, namun aku tak menghiraukan itu, aku hanya ada urusan dengan majikanku.
“Claudya.”
“Saya, Nyonya.”
“Saya akan memperkenalkan kamukepada seseorang yang sangat berpengaruh di negeri ini.Berikan hormat padanya.”
Aku memberi hormat dan menyebutkan namaku dengan sopan.
“Aku Dylan Aldwin. Senang berkenalan denganmu, kau cantik sekali.”Dia tersenyum ramah dan mengangguk kearahku.Lalu kembali menghadap pada ratu Margareth.Aku meminta diri.
“Karena sudah selesai, jika diperkenankan. Saya pamit untuk pulang.”
“Kenapa harus terburu-buru, Claud.Bermalamlah disini sekali saja.”
“Maafkan saya, saya harus segera berada di rumah.”
“Aku kira kamu bisa minum teh dengan kami dan berkenalan lebih dekat lagi dengan tamuku ini.”
“Sekali lagi, maafkan saya.”
Aku segera beranjak dan menghilang dari hadapan ratu.Aku tidak ingin lebih lama ada disini.Aku benci.Aku pikir ini sangat tidak masuk akal, menahanku untuk pulang hanya untuk berkenalan dengan orang itu.Aku tidak suka, aku merasa dipermainkan karena ini tidak ada manfaatnya untukku.Aku harus menemani suamiku di rumah.
Aku menarik napas dalam sebelum masuk ke rumah dan berusaha agar tetap tersenyum dan meminta maaf sedalam-dalamnya kepada suamiku tercinta.
“Selamat malam.”Aku membuka pintu dan menyalakan lampu. Aku tahu Clark tidak akan sempat melakukan ini semua. Dia sedang berbaring lemas di tempat tidur, aku harus segera menemuinya.Namun langkahku masih tertunda ketika aku mendengar sebuah suara yang datang dari dapur.Aku menyalakan lampu dan betapa kaget ketika melihat ada seseorang sedang berusaha menyalakan kompor. Dia berusaha meraba apayang bisa dia jangkau, dia kerepotan dengan kursi rodanya yang selalu membawa dia kemana-mana. Aku menghampirinya dan segera membawanya ke meja makan.
“Maafkan aku, Clark.Aku terlambat.Masih banyak pekerjaan disana sehingga aku tidak bisa cepat pulang.Maafkan aku.Aku segera akan siapkan makanan untukmu.”Aku mencium keningnya tanda bahwa aku benar-benar minta maaf.Aku tidak ingin dia marah atau kalau tidak, aku tidak ingin dia merasa ditinggalkan atau merasa sendiri.
Dan yang kudapat adalah senyum dia yang nakal.Entah kenapa seperti itu.Aku jadi heran.Dia cekikikan melihat rawutku yang bercampur aduk, antara kesal dan malu.
“Clark, ini tidak lucu.”
Dia masih tersenyum geli.
“Clark, cukup!”Aku mendelik dan langsung kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan.Aku tak menghiraukan dia lagi yang terus mengekor di belakang.Hari ini aku dijengkelkan oleh orang-orang yang sangat dekat denganku, aku tidak mengerti kenapa semua orang ingin membuat aku marah dan kesal hari ini.
“Mrs. Delvin.”Suara Clark menggodaku.Aku berhenti sejenak membasuh sayuran.Namun aku urungkan untuk menanggapi omongannya.Aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
“Adakah waktu luang malam ini?Bisakah kita makan malam bersama?”
Aku tak tahan lagi dengan godaan yang ini?Aku ingin tertawa karena senang dengan kata-kata seperti ini, dan aku memang sangat senang.Aku membalikkan tubuhku dan mendapati Clark telah menyodorkan setangkai bunga mawar merah ke hadapanku.Aku menyambutnya dengan senyuman lebar, dan dia mencium tanganku dengan penuh cinta.
“Tak ada cinta yang lebih besar di dunia ini, kecuali cintaku padamu.”
“Clark, terimakasih.”
“Sama-sama.”
“Aku punya satu pertanyaan.”
“Apa?”
“Kenapa kau tidak memarahiku setelah seharian meninggalkanmu, sehingga kamu merana disini sendiri.Tanpa satupun yang menemanimu.Harusnya kamu marah dan menghukumku.”Dadaku terasa sesak.Aku ingin sekali dia memprotesku karena kecerobohanku ini.
Clark terkekeh lagi, entah apa yang terus dia tertawakan. Dia selalu menanggapi aku seperti itu ketika hatiku resah.
“Clark, aku ingin sekali kamu bahagia.Katakan saja apa yang harus aku lakukan untukmu.”
Dia menyeret kursi rodanya kehadapanku dan merangkulku.Aku tenang dipelukannya, namun kejanggalanku tak hilang.Aku terus merasa bersalah.
“Kau mau tahu?”Dia bertanya.
“Hm.” Aku menjawab seadanya.
“Aku lapar, dan kamu harus membuatkanku makanan enak.”
Aku menyurutkan airmataku dan tertawa.Aku merasa terhibur dengan kata-katanya.Aku sangat senang.Akhirnya aku kembali memasak.Yah, hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya. Memasakkan makanan setiap akan berangkat kerja dan pulang kerja. Dan berusaha agar tidak membuatnya sedih.Tak ada lagi tujuanku hidup kecuali dirinya.Itulah sebabku masih bisa kuat sampai sekarang, tak ada lagi sebabnya kecuali dia.
Hampir 3 tahun pernikahan kita, tapi belum dikaruniai seorang anak.Namun kita tak pernah mengeluhkan tentang ini, karena kami berdua sama-sama tahu bahwa kami sudah bahagia dengan adanya kami sekarang. Dan penyakitnya sudah hampir 2 tahun, dia sering ke dokter dan selalu mengatakan padaku bahwa dia baik-baik saja namun memang tidak se-sehat orang lain. Aku tak keberatan karena aku percaya padanya.Aku telah siapkan dia kursi roda agar ketika dia tidak kuat untuk berjalan, dia bisa menggunakannya.
Sebenarnya, aku ingin sekali menghabiskan waktu bersamanya.Tanpa harus meninggalkannya kemanapun.Atau kalau bisa biar aku saja yang dirumah mengurus pekerjaan rumah dan duduk sambil menunggunya pulang kerja.Namun kenyataan ini begitu pahit ketika aku harus selalu meninggalkannya dalam waktu lama, dan dia pasti sangat bosan berada didalam rumah ini, sendirian, sepi, tak ada yang bisa dia ajak berbicara.
☺☺☺
Malam ini, aku sangat lelah.Sangat mengantuk dan ingin cepat tidur.
Sehabis makan malam, aku segera merapihkan meja makan dan membersihkan badan. Aku akan beranjak tidur sebelum akhirnya aku melihat Clark termenung dibawah taburan bintang, di balkon.
“Clark, sudah malam. Sebaiknya tidur saja.Juga tidak baik untuk kesehatanmu berada diluar.”
Dia menarik tanganku dan menggenggamnya erat.Clark menatapku dalam dan aku heran dengan semua ini.Dia sangat jarang bersikap begitu serius seperti ini, Clark adalah orang yang humoris dan hampir semua yang dilakukannya hanya bersifat main-main.
“Ada apa, Clark? Kamu kenapa?”
Dan kalau ini tak salah, aku melihat butiran bening itu keluar dari sudut matanya yang selama ini terlihat ceria.Kini, kesedihannya tak bisa lagi dia tampaung sendiri, ada kesedihan yang aku tidak tahu, karena aku pikir hanya aku yang sedih, dan hanya aku yang merasa bersalah.Namun nyatanya dia juga tersiksa ketika melihatku setiap hari merawatnya dengan sabar.
“Maafkan aku, sayangku.”
Airmataku tak terbendung.Aku sangat sedih, ulu hatiku terasa begitu perih ketika menyaksikan airmatanya runtuh.Aku tak pernah bermaksud untuk membuatnya sedih, bahkan aku sangat ingin melihatnya selalu ceria.Aku hanya makhluk yang lemah namun keinginanku melebihi dari kelemahanku untuk mencintainya dan memberikan kebahagiaan untuknya.
☺☺☺
Setelah pagi menjelang, menyambutku dengan senyumnya yang begitu menawan dan desiran angin yang lembut, perasaanku tak kunjung tenang.Perasaan aneh dan khawatir sangat menggangguku.Akhirnya aku putuskan untuk tidak ke istana hari ini.Aku ingin bersama Clark hari ini, bahkan sampai kapanpun. Dan keinginanku tak sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Baru selesai sarapan dengan Clark, ratu mengirimiku pesan agar segera datang ke istana.
“Pergilah! Aku lebih senang jika kamu juga menyenangkan hati orang lain.”
Aku meninggalkan Clark dengan berat hati.
Dalam perjalanan, aku terus memikirkan kata-katanya.Dan sangat pahit rasanya ketika mengingat itu semua.
“Sayangku, Claudya. Pujaan hatiku yang aku cintai dari dulu, sekarang dan untuk selamanya. Sekarang aku akan berkata jujur padamu. Aku akan mengatakan sesuatu padamu. Namun aku tidak mau kamu bersedih.Aku mohon dengan sangat padamu.Janganlah kamu bersedih.Anggaplah hal ini biasa.”Aku hanya diam, terus membiarkannya.Karena aku tidak bisa berjanji untuk tidak bersedih.Mendengar suaranya saja aku selalu merasa terpukul.
“Aku sudah tidak sehat lagi, dan keadaanku semakin parah.Aku hanya ingin berterimakasih karena selama ini kau dengan sabar merawatku dan mencintaiku dengan sepenuh hati.Dan, maafkan aku karena aku tidak dapat membahagiakanmu. Kerjaku selama ini hanya membuatku semakin repot mengarungi hidup ini yang keras.” Dan dari berbagai perkatannya, aku hanya tidak habis pikir ketika dia memintaku untuk meninggalkannya dan mencari cinta yang lain.
“Sayang, tak ada yang aku inginkan dalam hidupku ini kecuali kebahagiaanmu.Dan kenyataan mengatakan bahwa aku tidak dapat melakukan itu semua. Jadi aku minta agar kamu bisa mendapatkan orang lain yang dapat membahagiakanmu.” Sungguh aku benci dengan kata-kata ini.Aku sangat marah.
Aku bersumpah, bahwa hari ini aku akan segera pulang. Aku hanya akan menyampaikan kepada ratu bahwa aku tidak bisa kembali lagi ke istana. Mulai hari ini aku akan menghabiskan waktuku hanya dengan Clark suamiku.
☺☺☺
Aku semakin heran dan merasa hilang arah ketika sampai di istana. Seakan semua orang bersikap lain terhadapku. Namun aku tak mengerti itu apa. Dan aku berusaha menghilangkan semua perasaan aneh itu, yang jelas aku sekarang akan mengatakan pada ratu bahwa hari ini aku akan segera pulang dan tidak akan kembali lagi ke istana. Namun maksudku itu masih tertunda oleh acara makan siang Ratu dengan para tetamunya, masih seperti kemarin.Tamunya masih tetap Mr. Aldwin.Ketika aku ingin menyampaikan, aku di suruh ke ruang ganti untuk melihat beberapa baju.
Di dalam ruangan yang penuh dengan baju-baju ratu Margareth, yang paling menarik perhatianku adalah sebuah gaun pengantin berwarna putih yang terpajang di tengah ruangan.Sesaat kemudian beberapa perias datang ke ruangan dan mengambil gaun itu.
“Mrs. Delvin, silahkan mencoba gaun ini.”Aku menurut.Setelah keluar dari ruang ganti, perias itu kembali bertanya.
“Apakah anda merasa nyaman dengan gaun ini?” Dia bertanya dengan sangat sopan.
“I-i-iya.”
Dia memeriksa beberapa bagian dari gaun itu, memeriksa kelengkapannya.
Lalu aku kembali ke ruang ganti dan segera melepas gaun itu dengan cepat. Dan sesaat aku berpikir, buat apa semua ini? Perkenalan, makan bersama, dan gaun pengantin.Ketika ingat Mr. Aldwin itu aku langsung bergegas menemui ratu Margareth.
“Sungguh keterlaluan semua yang telah anda lakukan nyonya.Ini tidak seperti nyonya yang saya kenal selama ini.Yang saya kagumi karena kerendahan hatinya, karena kebaikannya, tapi kenapa sekarang malah ingin memisahkan saya dari suami saya. Apakah anda tahu bahwa hanya dialah satu-satunya yang saya miliki di dunia ini dan tak ada yang lain yang saya inginkan.”Tanpa menunggu tanggapannya aku langsung pergi meninggalkan istana itu.Dia memanggil namaku, berkali-kali.Tapi aku tak menghiraukannya.
☺☺☺
Sungguh tak bisa dipercaya semua pemandangan ini, ini adalah sebuah kejutan.Kejutan yang sangat menyakitkan.Aku menemukan suamiku telah berbaring dengan tenang diatas ranjang kami berdua.Membawa senyum damainya bersama bidadari-bidadari yang telah menjemputnya.
Aku limbung, kehilangan arah dan tak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku perhatikan wajahnya, dia tak main-main, itu berarti dia telah meninggalkanku untuk selamanya.
“Wahai, apakah ini keadilan?Aku tak meminta apapun kecuali dirinya.Aku tak menuntut apapun darinya.Aku hanya ingin dia.”Aku berteriak pada dinding-dinding yang sunyi, yang selalu menemani kekasihku ini.Tembok ini pasti lebih tahu semuanya daripada aku, karena dialah yang telah mejaganya selama ini.
“Anakku, berhentilah bersedih. Dia hanya hilang dari pandanganmu untuk sementara.Kelak kalian akan bersatu di surga.”
Ratu telah berada dibelakangku dan memegang pundakku.Mungkin dia mengikutiku dari belakang.
“Lihatlah bagaimana cara dia meninggalkanku! Apakah dia ingin membalasku karena selama ini aku selalu meninggalkannya sendirian disini?”Teriakanku semakin keras.
“Dia sangat mencintaimu dan dia tidak tega melihatmu setiap hari bekerja untuk dirinya, menafkahinya.Padahal itu adalah tugas yang harus dilakukannya untukmu.”Ratu merangkulku dan ikut tersedu.
“Tidak, bukan itu alasannya, dia tidak mencintaiku.Dia meninggalkanku sendiri.Dia begitu jahat.Aku tidak pernah keberatan merawatnya, aku tidak pernah mempermasalahkan ini.”Airmataku tak berhenti meleleh dan rasanya semakin sakit ketika aku berkata-kata.Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku benar-benar telah ditinggalkan?Apakah aku harus merelakannya? Apakah benar aku akan bertemu lagi kelak?
☺☺☺
Permaisuriku,,,,
Yang menerangi malamku, matahari pagiku, dan penutup senjaku
Jangan kau hiraukan terik matahari diatasmu
Karena dia akan tertunduk ketika berhadapan denganmu
Jangan kau takuti gelapnya malam
Karena dia tak kuasa melihat cahayamu yang indahmu bak pualam
Aku akan menunggumu di surga
Bersama para bidadari dan pujangga
Aku kembali melipat surat itu dan menyimpannya.
Aku baru tahu bahwa yang ingin aku menikah dengan orang yang bernama Dylan itu adalah suamiku, Clark.
Ternyata cinta tak memandang sakitnya sendiri, dia hanya ingin melihat yang dicintainya bahagia.Cinta tak meminta upah dan cinta juga tak memandang lelah.
Penulis : Sahabatku "Sri Wayuni"
Semoga bisa menghibur kalian :)

1 komentar:

  1. Aji's Resort Atlantic City - JTM Hub
    Aji's Resort Atlantic City - JTM Hub.com: Aji's Resort 수원 출장마사지 Atlantic 오산 출장마사지 City is a premier destination. Visit 구미 출장안마 our website to learn 서귀포 출장샵 more 김포 출장샵 about the property's amenities and

    BalasHapus